Category Archives: Teori-Teori dalam pembelajaran

DAYA BEDA

  1. Daya Pembeda

    Menurut Suharsimi Arikunto (2007:211), “daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah)”.

    Untuk menentukan daya pembeda (nilai D) digunakan rumus berikut:


    (Suharsimi Arikunto, 2007: 213)

    Read the rest of this entry

TINGKAT KESUKARAN

  1. Taraf Kesukaran

    Menurut Suharsimi Arikunto (2007: 207), “soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar”. Untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu soal, digunakan rumus berikut:


    (Zaenal Arifin, 2010: 266)

    Keterangan:

    WL    : jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelompok bawah

    WH    : jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelompok atas

    nL    : jumlah kelompok bawah

    nH    : jumlah kelompok atas

    Menurut Zaenal Arifin (2010: 270), indeks kesukaran diklasifikasikan sebagai berikut:

    P ≥ 73%        : sukar

    28% ≤ P ≤ 72%    : sedang

    P ≤ 27%        : mudah

    Pada penelitian ini, kriteria soal yang dipakai adalah soal sedang dengan indeks kesukaran 28% sampai 72%.

RELIABILITAS

  1. Reliabilitas Soal

    Untuk mencari reliabilitas soal digunakan rumus K-R. 20, yaitu:


    (Suharsimi Arikunto, 2007: 100)

    Keterangan:

    r11     : reliabilitas tes secara keseluruhan

    p         : proporsi subjek yang menjawab item dengan benar

    q     : proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1-p)

        : jumlah hasil perkalian antara p dan q

    n     : banyaknya item

    S     : standar deviasi dari tes

    Menurut Sugiyono (2007: 134) instrumen dikatakan reliabel jika r11 ≥ 0,3.

CONTOH HIPOTESIS PENELITIAN

DENGAN ANAVA::

Menurut Suharsimi Arikunto (2006:71) berpendapat  bahwa hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Model pembelajaran jigsaw lebih efektif daripada  explicit instruction terhadap prestasi belajar matematika pada siswa kelas VII  MTs Negeri Goranggareng tahun ajaran 2010/2011.
  2. Prestasi belajar matematika pada siswa kelas VII  MTs Negeri Goranggareng tahun ajaran 2010/2011 yang mempunyai motivasi belajar tinggi lebih baik daripada motivasi belajar sedang dan motivasi belajar sedang lebih baik daripada motivasi belajar rendah.
  3. Ada interaksi antara model pembelajaran yang digunakan dengan motivasi belajar matematika siswa kelas VII  MTs Negeri Goranggareng tahun ajaran 2010/2011, baik pada siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi, sedang, maupun rendah terhadap prestasi belajar. Read the rest of this entry

CONTOH KERANGKA PEMIKIRAN 2

Dalam proses belajar mengajar, tentunya keinginan untuk membuat proses itu menjadi sangat baik harus dimiliki oleh pendidik dan peserta didik. Berbagai hal dapat dilakukan untuk itu. Salah satunya dengan penerapan model pembelajaran kooperatif. Dengan pembelajaran kooperatif, guru akan lebih pasif sedangkan siswa akan menjadi aktif. Dengan begitu siswa akan dapat belajar dengan baik.

Model pembelajaran STAD dan model pembelajaran NHT merupakan model pembelajaran kooperatif. Kedua model ini lebih memberikan penekanan pada kerjasama kelompok.

Pada model pembelajaran STAD, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-6 siswa. Kemudian guru menjelaskan materi yang diajarkan. Setelah itu guru memberikan permasalahan pada masing-masing kelompok untuk diselesaikan. Setelah itu, hasil dari pekerjaan kelompok dikumpulkan dan siswa kembali ke tempat masing-masing untuk menerima tes individu. Setelah selesai, guru bersama siswa membahas soal tes tersebut. Read the rest of this entry

CONTOH KERANGKA PEMIKIRAN 1

Matematika berkenaan dengan gagasan berstruktur yang hubungan-hubungannya diatur secara logis. Ini berarti matematika bersifat sangat abstrak yaitu berkenaan dengan konsep-konsep abstrak dan penalarannya deduktif. belajar matematika adalah berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur yang diatur menurut urutan yang logis dimulai dari pengkajian bagian-bagian yang sangat dikenal menuju arah yang tidak dikenal.

Model pembelajaran explicit instruction adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural langkah demi langkah bertahap Pembelajaran ini berpusat pada guru. Model pembelajaran explicit instruction mempunyai kelebihan yaitu siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya dan semua siswa aktif atau terlibat dalam pembelajaran sedangkan kelemahan dalam model  ini yaitu memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama dan untuk mata pelajaran tertentu. Read the rest of this entry

MOTIVASI BELAJAR

  1. Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari kata motif, dalam bahasa inggris adalah motive atau motion, lalu motivation, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Artinya sesuatu yang menggerakkan terjadinya tindakan, atau disebut dengan niat.

  1. Pengertian Motivasi Belajar

Beberapa pendapat para ahli tentang pengertian motivasi antara lain:

  1. Menurut H. Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2007:22) “motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa”.
  2. Menurut Mulyasa (2008:195) “motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya perilaku seseorang ke arah suatu tujuan tertentu.”
  3. Menurut Hikmat (2009:272) “motivasi adalah dorongan atau rangsangan yang diberikan kepada seseorang agar memiliki kemauan untuk bertindak.”
  4. Menurut Hamzah B.Uno (2007:3) “motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.”

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah

tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya perilaku seseorang ke arah suatu tujuan tertentu agar memiliki kemauan untuk bertindak

  1. Fungsi Motivasi Belajar

Proses belajar akan berhasil manakala siswa memiliki motivasi  yang tinggi dalam belajar. Menumbuhkan motivasi belajar siswa merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab seorang  pendidik (guru).

Menurut Wina Sanjaya (2008:251) menyatakan bahwa ada dua fungsi motivasi dalam proses pembelajaran yaitu: mendorong siswa untuk beraktivitas, motivasi berfungsi sebagai pengarah.

  1. Upaya Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa

Menurut Wina Sanjaya (2008:261) untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, antara lain: memperjelas tujuan yang ingin dicapai, membangkitkan minat siswa, menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, memberi pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa, memberikan penilaian, memberi komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, menciptakan persaingan dan kerja sama.

  1. Teknik-teknik motivasi dalam pembelajaran

Menurut Hamzah B. Uno (2007:34-35) beberapa teknik motivasi  yang   dapat dilakukan dalam pembelajaran sebagai berikut:

  1. Pernyataan penghargaan secara verbal
  2. Menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan
  3. Menimbulkan rasa ingin tahu
  4. Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa
  5. Menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa
  6.  menggunakan materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar
  7. Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami
  8. Menuntut siswa untuk menggunakan hal-hal yang talah dipelajari sebelumnya
  9. Menggunakan simulasi dan permainan
  10.  memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum
  11. Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar
  12. Memahami iklim sosial dala sekolah
  13. Memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat
  14. Memperpadukan motif-motif yang kuat
  15. Memperjelas tujuan belajar yang hendak di capai
  16. Merumuskan tujuan-tujuan sementara
  17.  memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai
  18. Membuat suasana persaingan yang sehat di antara para siswa
  19. Mengembangkan persaingan dengan diri sendiri
  20. Memberikan contoh yang positif.

PUSTAKA::

%d bloggers like this: